Cerita Sex Istri Di Entot Abang Becak

Posted by ceritakiniOnSeptember 16, 2017

Cerita Seks Terbaru, Cerita Ngentot Dewasa, Cerita Mesum Terkini – Cerita Sex Istri – Kisah panas nafsu istri sedang birahi dientot sama tukang becak dengan judul “ Cerita Sex Istri Di Entot Abang Becak ” yang hot di jamin meningkatkan birahi seks, selamat menikmati.

Cerita Sex Istri Di Entot Abang Becak

Cerita Sex – Sebut saja namaku Ayu. Sebenarnya nama asliku sering dikenal sebagai Kustinah. Sejak sekolah hingga saat ini setelah umur 28 tahun teman-teman gaulku selalu memanggilku Ayu lantaran kecantikanku. Dan panggilan itu akhirnya keterusan sampai orang-orang rumah pun memanggilku demikian. Sebagai seorang wanita, menurut omongan dari banyak teman-temanku, aku termasuk cantik dan sensual. Dengan tidak rendah tubuhku yang seratus tujuh puluh empat cm dan berat badan yang 57 kg serta muka ayuku mereka bilang saya pantas kalau jadi model atau bintang sinetron.

Dari ukuran normal, sebagai seorang istri saya telah mendapatkan segalanya. Menjadi putri ke 3 dari keluarga yang cukup terpelajar, ayahku yang berasal dari Jambi merupakan seorang ahli hukum laut, menikah dengan ibuku yang berasal dari Jawa Timur merupakan seorang dokter, saya mendapatkan kasih sayang yang cukup melimpah.

Demikian juga, sebagai istri dari Mas Surya yang seorang insinyur arsitek, saya mendapatkan apapun yang saya inginkan. Tetapi itu juga mungkin pangkalnya. ‘Mendapatkan apapun yang aku inginkan’ itu di kemudian hari ternyata menghadapi tidak sedikit godaan yang tidak bisa saya hindari dan kendalikan. ‘Apapun yang kuinginkan’ ini berkembang dimensinya. Khususnya dalam kendala syahwatku.

Sudah delapan tahun saya menikah dengan Mas Surya. Suamiku termasuk type laki-laki idaman bagi kebanyakan wanita. Insinyur, ganteng, lembut, cerdas dan romantis. Meskipun hingga kini belum mempunyai anak, kami gak pernah kesepian. Ada saja yang membuat kami asyik mengarungi bahtera kediaman tangga sebagai suami isteri ini. Setiap pulang kerja ada saja cindera mata yang ia bawa untuk menyenangkan saya. Tidak sedikit kejutan yang dia persiapkan untukku. Apa saja tersebut.

Dalam perihal hubungan seksual, dia tergolong lelaki yang normal. Gairah, kelembutan dan romantisme yang ada padanya selalu menghasilkan hubungan seksual yang tak ada cacatnya. Hingga terjadilah satu peristiwa yang sangat mempengaruhi tingkah-lakuku dalam hal syahwat.

Berawal dari kediaman temanku. Sehabis aplikasi aerobik yang secara rutin aku lakukan bersama teman-teman dalam klub, aku tak langsung balik. Yang punya rumah, Mbak Sari, ngajak aku ngobrol dulu. Kebetulan dia sedang sendirian. Suaminya belum pulang dari kantornya, anaknya nginep di kediaman neneknya dan Warsih pembantunya sedang pulang desa. Sesudah dia buatkan saya teh panas kesukaanku, kami ngobrol di ruang keluarga. Setelah bicara macam-macam topik, Sari ngajak aku nonton DVD porno. Walau aku sering dengar tentang DVD macam itu jujur saya belum pernah menontonnya. Dan aku kok gak enak kalau tidak ingin ajakan Sari ini. Yaa.., akhirnya kami nonton sama-sama.

Ternyata dari DVD tersebut saya baru melihat apa-apa yang sebelumnya tak terbayangkan olehku. Wanita-wanita yang sangat cantik secara agresif digauli maupun menggauli lelaki kasar, gelap atau coklat dan sebagainya. Wanita-wanita tersebut sepertinya begitu bernafsu terhadap kemaluan lelaki. Dan yang aku nggak pernah terbayangkan sebelumnya, ternyata lelaki-lelaki tersebut mempunyai penis yang demikian gede, kuat, panjang dan penuh otot. Karena nafsu, kontol itu begitu berkilat saat tegang

Saat ‘close up’ kulihat, lubang kencingnya yang tidak sempit dengan lubangnya yang dipenuhi cairan syahwatnya yang jernih bersih. Kameranya menangkap citra kemaluan tersebut begitu tajam dan detail seperti penyajian citra makanan yang demikian lezatnya. Kilatan kepalanya yang mengkilat seakan akan meletus pada saat tegang bernafsu. Aku jadi ingat kemaluan suamiku yang mungkin cuma seperempat besarnya dibanding kemaluan-kemaluan bintang porno tersebut. Dan pada saat penis itu menembusi vagina, betapa sesaknya. Sampai nampak bibir vaginanya, yang tentu sungguh mencengkeram, ikut terbawa keluar masuk saat kontol itu memompa. Aku jadi merinding melihatnya.

Dan lihat wanita-wanita cantik tersebut. Dari desahan-desahan dan jeritan erotisnya nampak mereka diterkam oleh kenikmatan yang tak terhingga. Dan kenikmatan tersebut lebih lagi saat muncratnya air mani si lelaki yang ditumpahkan ke bibir-bibir cantik mereka. Terkadang berceceran di seputar wajahnya, kacamatanya, buah dadanya. Dan.. oohh.. si cantik-cantik tersebut menelan sperma-sperma lelaki kasar tersebut. Bahkan mereka juga menjilati yang tercecer pada bagian-bagian tubuhnya. Ah.. saya nggak tahan melihatnya.

Saya malu sama Mbak Sari jika sampai ia melihati wajahku Saya cepat-cepat pamit dengan alasan kediaman kosong. Dan sepanjang jalan pulang aku masih berpikir.. betulkah ada kemaluan sebesar itu. Dan perempuan-perempuan tadi.. cantik-cantik dengan mulutnya yang terus menjilati penis-penis lelaki kasar-kasar tersebut. Aku ingat betapa si lelaki menyeringai kenikmatan saat spermanya muncrat-muncrat.. dan iihh.. si wanita dengan rakusnya minum, menelan dan menjilati yang tercecer. Ahh.. Gedenya kemaluan ituu.. Aahh.. tidak! Jangan! Saya berusaha melupakan apa yang barusan kutonton. Saya tak mau mengingatnya lagi.

Sejak tersebut, tapi Dan yang membuat lebih repot lagi, saat Mas Surya menggauli saya selalu datang bayangan kemaluan-kemaluan gede itu. Bahkan akhir-akhir ini aku seakan merasakan hambar saat-saat kemaluan Mas Surya memasuki vaginaku. Rasa kegatalan pada dinding-dinding vaginaku tidak juga mau hilang. Untungnya aku bisa berpura-pura bergairah dan meraih orgasme, hingga Mas Surya tak merasakan ketidak beresanku.

Namun saya rasa perihal ini tidak mungkin berjalan selamanya. Biar aku meraih orgasme, dorongan syahwatku sendiri menuntut Kepalaku bakal pusing dan kerjaku tak bisa konsentrasi setiap gagal orgasme saat bersetubuh dengan Mas Surya. Lama kelamaan hal ini betul-betul menjadi derita bagi saya. Sejumlah hari terakhir ini Mas Surya menegorku, kenapa saya nampak kurang segar. Ia perhatikan raut kegembiraan di wajahku nampak jarang terlihat. Ia bertanya apakah saya punya kendala. Ia bahkan beri saran, jika ada masalah bicara, dia mungkin bisa membantu. Jangan simpan masalah itu berlarut-larut. Hal tersebut akan mempengaruhi kesehatanku.

Ah, kasihan Mas Surya. Dia gak tahu apa yang sedang aku dambakan. Namun kata-katanya yang ‘jangan simpan persoalan hingga berlarut-larut’ tersebut telah merangsang timbulnya gagasanku. Tapi entahlah.. Saya kacau dan oleng.

Setiap bulan saya belanja cukup tidak sedikit untuk keperluan kediaman tangga. Saya belanja di toko agen dekat dari kediaman. Dengan blouse katun tipis yang adem dan celana jeans ketat kesukaanku, aku keluar kediaman. Aku senang melihat lelaki-lelaki dan juga perempuan kagum dan menikmati sensual tubuhku berkat busanaku ini. Saat pergi tanpa bawaan barang aku naik angkot, nanti pulangnya dengan aneka macam barang belanjaan yang cukup berat aku biasa naik becak. Toko agen itu cukup mengenalku. Mereka melayani saya dengan ramah. Aku juga lihat bagaimana pemilik toko menikmati sensual penampilan tubuhku. Sambil mengelusi kemaluannya dari meja kasirnya, siapa tahu dia Ah.. kenapa pikiranku gampang jorok macam ini semenjak menyaksikan DVD di tempat Mbak Sari tersebut.

Sesudah selesai belanja, seperti biasanya anak buah pemilik toko membantu ku memanggil tukang becak dan menaikkan barang-barangku ke becak. Saat aku mau naik, sepintas aku ngomong sama abang becaknya kemana tujuanku. Pada saat itulah tiba-tiba aku merasa bergidik merinding. Melihat sosok tubuh yang kekar dan kecoklatan serta bertatapan muka dengan si abang becaknya, aku kembali ingat tayangan film porno itu. Wajahnya sangat seksi dengan bibirnya yang tebal itu rasanya siap melahap aku. Matanya nampak liar seakan hendak memandang telanjangnya tubuhku. Aku sepertinya kena sihir, bengong, hingga dia yang menegor,

“Kemana, buu..?!”

Masih dalam bengong aku naik ke becak,

“Kemana, buu..?!,” sekali lagi kudengar pertanyaannya.
“Ah, iyaa.. ke kompleks bang..,” jawabanku terasa tanpa berpikir.

Sepanjang jalan itu aku terus melamun.. Adakah kemaluan si abang becak yang sedang kutumpangi ini juga gede? Duhh.., kenapa pikiranku terus tertuju kepada si abang ini? Sebagaimana biasa, begitu sampai di rumah, karena barang-barangnya cukup banyak dan berat, si abang becaknya membantu untuk menurunkan dan memasukkan barang-barang belanjaanku tersebut ke dalam rumah.
Aku tak bisa mengelak dari keinginanku untuk mengamati sosok si abang becak. Kulihat tubuhnya yang hanya memakai kaos singlet dan celana pendek yang setengah dekil, mengkilat karena keringatnya. Nampak gumpalan daging dan otot-ototnya yang kecoklatan pada lengan-lengan dan paha serta betisnya. Wajahnya nampak kasar oleh tempaan kehidupannya. Walaupun wajah itu tidak tampan, dengan bibirnya yang agak tebal, dia nampak sangat seksi. Lelaki macam inilah yang sering aku bayangkan memiliki kemaluan yang gede. Benarkah?

Dengan sigap dia mengangkat dan memanggul barang-barangku ke dalam rumah. Saat itulah dorongan syahwatku kembali menyergap ku. Alangkah seksinya tubuh si abang ini. Timbul keinginan untuk menahannya lebih lama. Aku bilang, tunggu sebentar bang, sambil aku berpura-pura mencari dompet yang sengaja tak kutemukan. Aku berpura-pura bingung seperti orang lupa. Sementara menungu kupersilahkan dia duduk di kursi makan dekat dapur. Aku sendiri masuk ke kamar untuk meneruskan pencarian dompetku. Sesaat kudengar dia ngomong,

“Bu, boleh pinjam toiletnya, saya pengin buang air kecil?”

Ah, kebeneran, kata dalam hatiku,

“Silahkan, bang,” aku menyahut dari kamar.

Sementara si abang becak kencing di toilet, lalu saya keluar Kuperhatikan pintu kamar mandiku. Aku agak blingsatan. Darah syahwatku mengalir deras. Saya pengen banget ngintip saat dia kencing. Ini dikenal sebagai kesempatan yang langkah dan paling kutunggu. Karena pintu kamar mandiku yang terbuat dari papan memberikan celah-celah tidak besar sepanjang sambungannya, dan pada saat seperti tersebut sangat mungkin bagiku untuk mengintip Tidak bisa untuk menahan diri saya berjingkat mengendap-endap untuk mengintip. Jantungku berdegup keras. Cukup edan bagiku yang istri insinyur untuk bisa berbuat macam ini.

Darahku langsung syuurr.. saat bisa mengintipnya. Nampak si abang sedang memegangi kemaluannya. Loh, ngapain ia..? Kulihat kemaluannya tegang dengan tangannya yang menguruti sambil wajahnya sesekali menyeringai menatap ke langit-langit. Saya menjadi lebih penasaran lagi. Inikah yang disebut onani. Jadi si abang becak ini sedang onani di kamar mandiku? Darahku langsung tersirap naik ke permukaan wajahku. Kudengar pukulan jantung pada dadaku. Aku sepertinya disergap kobaran nafsu. Buah dadaku terasa mengeras dan didesak-desak rasa gatal.

Secara otomatis tanganku menjamah dan meremas-remas buah dadaku, lalu ku pelintir puting susuku. Kuraih kenikmatan tak terhingga. Nikmat syahwat yang tidak terhingga dibuahkan oleh pandangan ke kemaluan si abang yang sedang ngaceng onani dan remasan payudaraku. Nafasku memburu. Karena khawatir aku mendengarnya, kudengar si abang mendesah pelan, pastinya Aku baru tahu saat ini, inilah langkah-langkah lelaki melakukan onani. Aku kembali bertanya, mengapa dia lakukan disini? Di rumahku, saat dia melakukan tugasnya selaku penarik becak? Haa.. mungkinkah birahinya timbul lantaran ia menyaksikan tampilan seksualku.

Kocokkan tangannya yang membuat otot kemaluannya semakin mengencang. Dan lihat.. Duuhh.. sungguh perkasa. Saya taksir kira-kira panjangnya dua kali genggaman tanganku. Tersebut nampak saat ia menarik ke belakang dan melepas ke depan genggamannya. Dan bulatan batangnya, sepertinya dia sedang menggenggam pisang tanduk. Saya sungguh terpesona. Mataku bersedia diedipkan oleh aku tidak. Saya sedang betul-betul meyaksikan seorang pria bermasturbasi. Kulihat kembali wajahnya yang menyeringai menahan nikmat tengadah ke langit-langit kamar mandiku. Sementara tangannya yang terus mengocok penisnya dengan tempo yang semakin tidak lambat.

Karena orgasmenya, dan kusaksikan kini detik-detik seorang pria meregang Dengan tidak banyak teriakkan kecil, ia meregangkan tubuhnya sampai seperti busur yang melengkung ke belakang. Lantaran menahan tekanan darah dari dalam, kepalanya yang bulat licin berkilatan dinampakkan oleh sementara penisnya yang sungguh tegak dan tegar lurus ke arah depan Dan aku sedikit tersentak kaget saat tiba-tiba kusaksikan muncratan pertamanya. Spermanya muncrat seperti peluru yang di tembakkan kearah dinding kamar mandiku. kontol tersebut mengangguk setiap memuncratkan cairan kental dan pekatnya. Kusaksikan ada sekitar 7 kali kontol tersebut mengangguk dan memuncratkan spermanya. Ternyata sungguh banyak kandungan sperma abang ini.

Sesudahnya nampak si abang dengan lunglai bersandar kedinding untuk istirahat sejenak. Mungkin energinya tersedot habis. Aku bergegas bangkit dan kembali ke kamarku sebelum ia memergoki aku. Saat aku keluar ia masih juga di kamar mandi. Dia teh panas manis dibuatkan oleh kesempatanku untuk. Sikapku wajar-wajar saja saat ia muncul dari pintu kamar mandiku.

“Ayo, Bang, minum dulu..,” kutawarkan minumannya dan kuberikan upah becaknya.

Kuperhatikan sepintas, dia kayaknya seseorang yang sudah berlega lantaran telah melepas bebannya. Sambil membayangkan nikmatnya menyetubuhi aku, onani dilakukan oleh dan saya juga berpikir pastinya dia Saya kembali terbakar syahwatku.

Berhari-keesokan harinya peristiwa itu selalu lekat dalam pikiran dan hatiku. Sering timbul rasa sesalku, kenapa tak kutahan saja dia untuk kemudian kuajak ke ranjangku. Aku membayangkan bagaimana buasnya dia melahap diriku. Aku sungguh mendambakan bagaimana rasanya saat penisnya menembus kemaluanku. Pasti G-spotku bakal menjemputnya dengan penuh kegatalan yang amat sungguh. Pastinya aku akan meraih orgasme beruntun dari si abang ini. Yang aku sesalkan juga, aku tak menanyakan namanya. Saya pastikan pada setiap kali belanja aku bakal mencari ia untuk membantuku nanti.

Sebetulnya sih, sekarang belum tanggalnya aku belanja. Baru sepekan yang lalu saya ke toko agen. Namun ah.. mungkin saya telah nggak bener lagi nih. Aku pengen banget ketemu si abang becak tersebut. Saya bener-bener kesengsem dengan kemaluannya. Aku gak lagi berpikir pantas atau tidaknya orang ayu macam saya, terpelajar dengan suaminya yang insinyur kok merindukan tukang becak. Apakah syahwat tersebut memang demikian hebat kekuatannya sampai bisa merubah cara pandangku mengenai kenikmatan syahwat. Aku sudah ditelan sikap masa bodoh. Saya tak merasa harus untuk lagi menempatkan yang namanya martabat atau harga diri dalam kaitan syahwat ini. Lihat saja tontonan DVD itu. Bukankah mereka cantiknya tidak biasa. Dan juga nampak terpelajar dan bermartabat.

Mereka melakukan kesenangan seksualnya di tempat-tempat yang amat mewah, di atas mobil mewah, di dalam apartemen yang mewah, bahkan di atas kapal-kapal personal yang mewah juga. Dan lihat pasangan prianya, disamping yang juga nampak terpelajar ada juga yang bertampang pekerja kasar. Bukankah “contrastistic’ tersebut juga menjadi salah satu konsep mengenai indah atau estetika. Terus terang saya memang mencoba mencari pembenaran atas sikap dan tingkah lakuku ini. Dan akhirnya saya berangkat juga pergi belanja yang ke 2 untuk bulan ini.

Saya gak tahu wajib beli apa. Seluruh kebutuhan bulananku telah kudapatkan minggu kemudian. Akhirnya aku beli saja lagi sejumlah barang yang bisa disimpan lama, sabun, shampoo, pasta gigi atau obat nyamuk. AKu gak sempat memperhatikan pemilik toko yang selalu menikmati kehadiranku di tokonya. Aku mau tidak lambat usai dan pulang. Saya mau secepatnya menemui si abang becak itu.

Di jalanan tempat pangkalan becak aku tak langsung bisa menjumpai abang becakku. Aku tak berani tanya ke mereka untuk menghindarkan kecurigaan. Ah, tersebut dia.. baang.., dari kejauhan saya melambaikan tanganku. Dia tahu. Dan tanpa ba bi Bu aku langsung naik saat becaknya mendekat. Woo.. aku sedikit terlupa. Bukankah belanjaanku kali ini amat sedikit untuk dia bantu memasukkan ke kediaman nanti. Ah, sudahlah, bagaimananya nanti saja baru dipikirin.

Sesampai di kediaman saya bilang, “Masuk dulu, Bang, aku ambil dana dulu.”

Aku berlagak seakan uangku kurang dan perlu ambil dari rumah.

Setelah kulihat ia agak ragu sebab nggak ada barangku yang mesti ia panggul, ajakku lagi

Akhirnya kembali ia kuajak untuk duduk di kursi makan tidak jauh dapur. Kini saya berpikir bagaimana memulai segalanya yang selama 7 hari terakhir ini sangat kudambakan.

“Bang, siapa namanya? Minum dulu ya? Nggak buru-buru kan?,” aku berusaha beramah-ramah dan membuatkan minuman tanpa menunggu jawabannya. Saya mau ia tinggal lebih lama. Saya berusaha mengulur-ulur waktunya.
“Nama aku Darius, Bu. O, ya, boleh aku ke toilet ya, Bu?,
“Silahkan.”

Nah, rupanya ia kebelet juga. Tentu mau mengulang kembali onani di kamar mandiku. Pasti perihal yang sungguh membuat saya gembira. Syahwatku langsung syurr.. naik. Kupercepat adukan teh manisnya. Aku pengen cepat mengintip lagi.

Pemandangan indahku kembali didapatkan oleh dan saya. Dia benar-benar melakukannya lagi. Yang aneh, kali ini ia justru menghadap ke pintu dengan ujung kemaluannya tepat di belahan papan pintu. Aku jadi curiga. Adakah ia tahu aku mengintip?! Dan sekarang ini dengan sengaja dan berani menghadapkan kemaluannya langsung ke celah pintu yang seakan menantang aku. Duh, lihatlah.., demikian tidak jauh ke celah ini. Oohh.. Bang Dariuuss.. gede bener sih penismuu..

Tangannya mengurut-urut dengan indahnya. Desah-desahnya mulai kedengaran seiring nafasku yang memburu. Penis tersebut seakan nempel di wajahku. Rasanya aku bisa menangkap baunya. Bau kontol lelaki sebagaimana bau kemaluan suamiku juga. Cuma yang ini demikian lebih jauh merangsang birahiku. Tanganku kembali meremasi buah dadaku. Adegan ini edan dan sekaligus lucu. Seandainya ada sutradara DVD komedi porno, saya jadi membayangkan

Sambil terus meremasi susuku kunikmati betul pemandangan itu. Kontol tersebut semakin membesar dan mengkilat. Nampak urat-uratnya melingkar-lingkar kasar di sepanjang batangnya. Cairan birahinya mulai membasahi ujungnya disaksikan oleh kemudian aku. Pada lubang kencingnya nampak ada titik bersih yang kemudian meleleh. Bang Darius mengocok semakin cepat. Cepat, cepat..

Alhasil kusaksikan kembali spermanya muncrat. Kali ini tepat menembaki celah-celah sambungan papan pintu ini. Meskipun tidak terlempar keluar pintu, sperma itu nampak bening kental mengalir turun di celah tersebut. Supaya tak kepergok, aku cepat bangkit menghindar Dengan setengah lari tidak besar aku menuju ke dapur, mengambil cangkir tehnya. Kusajikan tepat saat ia mencuat di pintu. Saya senyum yang dia juga balas dengan senyum dari mukanya yang ber-rona kemerahan. Dia nampak kembali meraih kelegaan dari beban syahwatnya yang tersalur.

Kali ini aku sudah bertekad untuk mengulur waktu agak dia bisa tertahan lebih lama sambil mencari kesempatan untuk kemungkinan lebih jauh. Aku ajak ngobrol. Karena pendidikannya yang rendah, dengan penuh maklum Di mana tinggalnya, istrinya, berapa anaknya, telah berapa lama narik becak dan sebagainya. Ia nampak sangat santun, atau malu barangkali, omongannya secukupnya saja. Tetapi ada satu hal yang kulihat dari matanya. Dia nampak sangat menikmati kehadirannya tidak jauh dengan aku ini. Matanya itu sering mencuri pandang pada tubuhku. Kusaksikan sejumlah kali dia begitu melotot melihat belahan dadaku. Kemudian ketiakku, yang memang saat tersebut aku sedang memakai blus “u can see.” Saya yakin dia pengin banget melahapku.

Hal ini mendorongku untuk beraksi lebih tidak sedikit. Terkadang sambil bicara saya menunjuk sesuatu sehingga lengan dan ketiakku menjadi lebih terbuka. Atau aku berdiri, berjalan atau merunduk atau membelakang. Bagian-bagian tubuhku yang sensual ini ingin ditampillkan oleh aku kelihatannya betul-betul peragawati yang. Setelah sekian lama ngobrol sana-sini, tak juga kudapatkan perkembangan yang berarti pada pertemuan ini. Yang kulihat hanyalah wajah bengong si abang. Lantaran onaninya tadi membuat birahinya tidak lagi begitu menyala, mungkin Saya harus rela untuk menunda bayangan nikmat syahwatku. Bang Darius balik sesudah menerima upahnya. Sebagai pelarian hari tersebut aku mendapatkan kepuasan dengan masturbasi. Dari lemari es kukeluarkan simpanan ketimun besar dan tidak pendek. Kira-kira sebanding dengan kemaluan Bang Darius. Kurendam ke air hangat agar menjadi hangat. Saya masturbasi dengan ketimun tersebut sambil membayangkan penis Bang Darius menembusi memekku. Ah. nikmatnya.. Orgasmeku kudapatkan beruntun-runtun.

3 hari lalu aku kembali dilanda sepi dan rindu pada Bang Darius. Saya harus kembali belanja ke toko agen itu. Aku telah mempersiapkan apa yang wajib kubeli. Apapun, pulangnya saya harus diantar Bang Darius. Kali ini saya ingin bisa meraih lebih banyak dari sebelumnya. Saya mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan biar hal itu bisa terwujud. Mungkin kuncinya berada di saya. Saya harus lebih berani. Yang kuhadapi adalah orang dari kelas sosial yang berbeda. Kalau Bang Darius merasa tidak tinggi diri di depanku tersebut dikenal sebagai wajar. Aku yang seharusnya memulai. Aku wajib agresif. Betulkah tersebut?! Bisakah saya?

Encik istri pemilik toko bingung saya memborong belanjaan lagi. Ah, masa bodoh, tersebut urusanku. Saya bilang kalau saudaraku minta dibeliin ini tersebut di tokonya karena harganya miring. Encik senang mendengarnya. Saat balik Bang Darius telah menunggu dengan becaknya. Itu memang sengaja saya atur. Usai belanja, aku gak sudi terjadi saat Dia angkati barang-barangku dan menyusul aku naik ke becaknya. Kali ini kami sudah akrab. Sepanjang jalanan kami tidak sedikit ngobrol.

Sesampai di kediaman, dan memanggul barang-barang untuk dibawa masuk ke dalam kediaman langsung diturunkan oleh tanpa saya minta lagi dia. Dan tanpa kusuruh lagi ia menunggu aku duduk di kursi makan tersebut. Tanpa memberikan tawaran, teh manis untuknya langsung dibuatkan aku juga. Bahkan saya juga menyediakan makanan tidak besar. Aku akan tahan dia lebih lama lagi. Kali ini ia tak minta ijin ke toilet. Barangkali ia malu setiap ke rumahku kok selalu ke toilet.

Kami kembali ngobrol. Hari ini sengaja aku memakai busana yang lebih “hot.” Blusku lebih banyak memperlihatkan belahan dada dan ketiakku. Aku pakai jeansku yang cuma sampai ke lututku, pantatku yang seksi betisku yang ranum mulus nampak sungguh menggoda ditampilkan sehingga disamping. Saya sudah bertekad untuk lebih agresif padanya. Saya bakal lebih tidak sedikit bergerak untuk memperlihatkan bagian-bagian sensual tubuhku. Saya sudah siapkan cara kuno. Saya bakal pura-pura kepleset dan minta Bang Darius menolong aku. Urutan bakal diberikan kakiku akan ke seleo dan dia. Pasti saja di atas ranjangku. Saya bakal mengaduh atau merintih kesakitan dengan irama dan nada yang erotis banget. Saya benar-benar siap membuat jebakan untuknya. Dan kini harus ku mulai. Aku masuk ke kamarku dengan penuh tekad.

Dan sebentar lalu.. brukk.. aku menjatuhkan diriku ke lantai.

“Aduuhh.. Bang.. tolongiinn..,” aku berteriak minta tolong.

Kudengar bunyi kursi yang ditarik berderit dan dengan langkah terburu Bang Darius telah muncul di pintu yang kemudian dengan tidak lambat jongkok meraih saya. Saya berteriak kesakitan, seakan tak bisa berdiri. Dia raih punggungku pelan lalu pahaku. Dia angkat saya untuk direbahkan ke ranjang.

“Kenapa, Bu?,” tanyanya nampak panik.

Bahwa kakiku ke seleo ditunjukkan aku tidak menjawab kecuali saya terus merintih setengah terisak sambil memegangi sendi kakiku untuk. Saya lihat dia mau membantu mengurut tetapi ragu. Ia khawatir dianggap kurang ajar.

“Adduuhh.. tolongi saya Bang, sakiitt..,” baru setelah rintihanku itu dia berani memeriksa kakiku.
“Keseleo, ya, bu?!” kemudian membantu menguruti kakiku.

Duuhh.. nikmatnyaa.. Sepintas hidungku menangkap aroma tubuhnya. Tubuh dari lelaki yang gempal, penuh keringat dan sungguh seksi ini menebarkan bau kejantanannya. Tangan-tangannya yang kurasakan sangat keras dan kasar tersebut terus mengurut pelan sendi kakiku. Dan hasilnya merupakan darah syahwatku yang melonjak panas. Sampai disini skenarioku berjalan mulus.

Aku telah memasuki tahap tidak bakal mundur lagi dalam memenuhi nafsu libidoku. Aku harus teruskan permainan sandiwara ini. Sambil memegangi betis saya terus terisak dan mengaduh-aduh, dengan setengah menutup mata Kadang tengkurap, setengah tengkurap atau telentang. Saya yakin suguhan pemandangan ini akan langsung menggoda saraf birahi Bang Darius.

Kurasakan urutan tangannya tersendat. Diperlukan minyak untuk pelicin. Dari meja rias di sebelah ranjangku kuraih ‘baby oil’ yang sering kupakai untuk membersihkan lubang kuping.

“Pakai ini Bang..,” kusodorkan padanya biar urutannya lancar sambil terus mengeluarkan rintihan yang membuat iba pendengarnya.

Walaupun nampak sungguh heran, rupanya soal urut mengurut tidak terlampau tidak mudah bagi Bang Darius ini. Mungkin di rumahnya dia juga sering mengurut anak atau istrinya. Dengan minyak yang kusodorkan dia mengurut lebih nikmat.

“Yaa, enak, baang.. teruss,” rintihku yang sengaja kuperdengarkan dengan nuansa kemanjaan dan erotis sekali. Saya tahu tentunya, mendengar rintihanku ini Bang Darius bakal sesak napas menahan syahwatnya. Ketika urutan tangannya mulai melebar dan naik ke arah betisku, dan ini kurasakan “Biar tidak lambat baik, Bu,” kudengar bicaranya bergetar.
“Iya, Bang, enakan disituu..,” saya terus mendorongnya sambil mengeluarkan jurus menggeliat-geliatkan pinggul dan pantatku serta menaburkan erangan dan rintihan erotisku secara berkepanjangan. Dan saya mulai merasakan hasilnya. Tangan Bang Darius merambah lebih tidak sempit lagi. Ia sudah meraih lututku. Aku sendiri semakin terbakar oleh birahiku.

“Ah.. Bang Darius.. yaa.. enaakk.. teruss.. baang.. Enaakk..”

Dengan tetap setengah menutup mata saya meliuk menambah gelombang geliatan pada pinggul dan pantatku. Aku disembuhkan oleh saya rasa Bang Darius telah tak lagi konsentrasi untuk. Aku merasakan pijatannya sudah berubah menjadi remasan-remasan. Aku pastikan bahwa Bang Darius sudah masuk jeratku saat tangannya mulai menjamah pahaku dan kemudian naik sampai pangkal pahaku. Dan alhasil..

“Buu.., Bu Ayuu.. Ayyuu..,” tahu-tahu kudengar suranya yang semakin bergetar memanggil manggil namaku. Ah, dari mana ia tahu namaku.

Saya tak menjawab kecuali meneruskan rintihanku. Dan memang Bang Darius tak menunggu jawabanku. Dia langsung rebah keranjang menindih tubuhku, kemudian dengan tangannya langsung menjemput pinggulku, meraih dan memeluki aku dengan kedua tangan kasarnya. Didekapkannya tubuhku ke tubuhnya. Kurasakan gumpalan dadanya melekat di dadaku. Tidak ayal lagi aku langsung sambut pelukannya. Kuraih bahunya yang gempal itu.

“Baanng..,” dengan tak tertahankan saya menjemput bibirnya untuk aku pagut dan lumati. Uuhh.. alhasil kudapatkan bibir dan lidah yang kasar ini.

Seperti singa liar, Bang Darius menyambut lumatan hausku dengan buas. Bibirnya menyedot bibirku. Tangannya yang penuh otot itu langsung turun kebawah untuk menjamah dan meremas-remasi vagina di pulang jeans-ku. Saat bibirnya kulepaskan dia meliar ke leherku. Ia sedoti kulit leherku. Jangan .., nanti keluar cupang. Namun nikmat yang kurasakan membuat saya tidak mampu mengelak dan Bang Darius tidak lagi mendengarku. Yang dia dengar kini hanyalah syahwat hewaninya yang buas itu. Dari leher ia turun ke dadaku. Ia renggut blusku dengan kasar hingga kancing-kancingnya putus lepas. Ia tenggelamkan wajahnya ke belahan dadaku. Ia menciumi payudaraku dan menyedoti puting-puting susuku. Aduuhh, luar biasa nikmat yang kutanggung ini.. Aku langsung terlempar ke awang-awang dan tidak lagi menyadari bahwa saya masih istri Mas Surya. Rasanya aku terbawa gelombang tsunami yang menghempas-hempaskan sanubariku di karang-karang terjal pantai kenikmatan. Saya remuk redam dalam nikmatnya syahwat. Ayoo, baang.. teruss.. jamah semua tubuhkuu bang.. teruus..

Sambil terus melumat susuku, dengan tak sabarnya dia lepasi celana jeans sekaligus celana dalamku. Dan ia lepasi pula celananya sendiri. Kulihat sepintas penisnya yang super tersebut langsung lepas terayun-ayun. Saya menggigil membayangkan apa yang akan dia lakukan padaku.
Mungkin seorang macam Bang Darius ini tak lagi perlu ‘foreplay’ yang romantis. Begitu saya bugil ia langsung terkam aku. Dia kuak pahaku dan tubuhnya masuk di antaranya. Kemaluannya yang mengayun-ayun itu di pegangnya dan langsung di arahkan untuk menembusi vaginaku. Nikmat atas kekasarannya tersebut dirasakan ternyata aku. Sambil ia tekan kemaluannya ke vaginaku, kembali bibirnya menjarah buah dadaku dan menggigit-gigit pentil-pentil susuku. Duh, nikmat tidak tertanggungkan. Saya menggelinjang dan merintih penuh manja. Darah birahiku memang sudah menyala berkobar-kobar.

Bagiku ‘foreplay’ku telah berlangsung berhari-hari sebelumnya. Kini yang aku dambakan memang selekasnya kemaluan Darius yang super tersebut masuk meretas dinding-dinding vaginaku yang telah sudah lebih tiga minggu menunggunya. Sepertinya aku dilanda kehausan yang amat sungguh. Dan menembus gerbang vaginaku ditemukan oleh aku kuak sendiri lebih tidak sempit pahaku untuk memberi kesempatan kemaluan Darius cepat.

Dan.., Ooohh, Baanng.. Aku rindu Abaang.. Aku rindu kamu bang.. Aku rinduu..

Kemaluan itu bergocek menggelitik bibir-bibir vaginaku. Kepala penisnya yang bulat besar itu tidak mudah menembus lubang vaginaku yang sempit. Pelicin pada lubang vaginaku diusapkan kulihat dengan tidak sabarnya Bang Darius meludahi tangannya untuk. Setelah sejumlah kali saling tekan dan dorong, dan blezz.. menguak lubang vaginaku, tembus untuk langsung dijepit dinding-dinding vaginaku. Daging gede yang hangat milik Bang Darius sudah masuk ke perangkapnya. Dinding vaginaku mencengkeram untuk tidak melepaskannya. Saya merasakan vaginaku mengempot-empot seperti akan menghisap habis darahnya. Sensasi nikmat yang spektakuler sudah melandaku.

Duhh.. surga duniaa.. Kenikmatan tiada tara ini diabadikan oleh rasanya aku mau pingsan untuk. Penis Darius terus melesak menyodok rahimku. Saya menjerit kecil. Dia menekan tidak banyak, lebih menyodok lagi. Saya kembali menjerit .

Pada tarikan pertamanya kurasakan seakan batang panasnya tersebut meninggalkan sejuta rama-rama yang menebari saraf-saraf peka pada dinding vaginaku. Kegatalan pada seluruh permukaan dinding vaginaku membuat cengkeraman vaginaku terasa sungguh legit pada batang kemaluan Bang Darius. Dia melenguh hebat sambil menggigit leherku. Saya kembali menjerit sekaligus menggeliat dan goyangkan pantatku yang enggan terlepas dari penisnya.

Itulah pola awal yang seterusnya menjadi gerakan ritmis pompaan kemaluan Bang Darius pada vaginaku. Saat Bang Darius menusuk, vaginaku menjemput dan melahap lebih dalam. Saat Bang Darius menarik, vaginaku mencengkeram seakan menahannya. Gerakan ritmis itu berulang ratusan kali sambil bibir-bibir kami terus menerus sedot atau gigit.

Dan kini saya mulai merasakan seluruh saraf-sarafku mulai merangkak menapaki jalan menuju puncak-puncak kenikmatan syahwat. Keringatku yang mulai mengucur deras membuat Bang Darius semakin gencar melangsungkan pompaannya. Desahan dan rintihan nikmatku memacu Bang Darius untuk terus melahapi puting susuku, leherku, ketiakku, buah dadaku. Cupang-cupang yang bertebaran di tubuhku bakal ditinggalkan saya sudah membayangkan ciuman-ciuman buas Bang Darius ini. Bagaimana saya mesti berhadapan dengan Mas Surya, soal tersebut nanti sajalah..

Kontol Bang Darius yang keluar masuk semakin liat dan legit kurasakan dalam cengkeraman vaginaku. Dan kini saya benar-benar berada di ambang puncak tersebut.

“Ampuunn.. Baanng.., ampuunn.. Baanng.., teruus Bang.. saya nggak tahaann..”

Bang Darius tahu apa yang akan kudapatkan. Ia terkam, jilat dan sedoti ketiakku dengan lebih ganas. Rupanya ia betul-betul bernafsu dengan ketiakku ini. Dan akibatnya rasa yang kualami sungguh luar biasa. Rasa macam tersebut tak pernah kuraih saat aku tidur dengan suamiku, Mas Surya. Rasa yang luar biasa itu adalah datangnya orgasmeku secara merambat dalam mendekati klimaksnya. Tampaknya nikmat merambat menjalari setiap urat-urat bagian tubuhku. Rambatan nikmat tersebut mengarah menuju ke titik pusat yaitu wilayah vaginaku. Kondisi tersebut membuat saya secara refleks bergelinjangan dan meliuk-liukkan tubuhku bak ulat sutra yang bergelut. Pastinya saja hal itu semakin membuat syahwat Bang Darius menggelora. Dengan sepenuh energinya dia terus menimba kenikmatan dari gelinjang dan liuk tubuhku.

Ketika alhasil orgasmeku datang, dan Cakar-cakarku langsung menancapkan kukunya ke punggungnya sampai meninggalkan goresan luka. Orgasmeku yang datang itu menerjang kesadaranku. Saya kayaknya tercekik dengan nafasku yang tersengal-sengal terlanda nikmat yang amat sangat. Perihal itu berlangsung berdetik-detik, secara beruntun. Sampai-sampai aku seperti orang kesurupan menghentak-hentakkan kepalaku ke bantal. Rambutku terlempar-lempar awut-awutan.

sementara itu, ternyata orgasme Bang Darius juga datang menyusul. Oleh karenanya ia sama sekali tidak mengendorkan pompaannya. Semakin tajam, semakin kuat dan tidak lambat penisnya terus merangsek ke dalam vaginaku.. hingga meledaklah cairan panas yang menyemprot dan meluberi vaginaku. Sambil mengeluarkan teriakan histeris, seperti kuda jantan yang membuahi betinanya ia menggeliat dan mendongakkan kepalanya Berliter-liter spermanya tumpah hingga membuat vaginaku kuyup dalam cairan lendir kental tersebut.

Titik puncak yang datang bersama-sama itu betul-betul menguras semua tenaga kami. Pada saat segalanya selesai kami langsung rubuh bersama. Tubuh-tubuh telanjang kami terkapar melintang di ranjang. Yang lalu terdengar hanyalah nafas-nafas panjang dari aku maupun Bang Darius. Kami sangat kelelahan. Aku langsung diserang rasa ngantuk yang tidak biasa. Saya masih merasakan ciuman-ciuman terakhir Bang Darius sebentar setelah klimaks bareng tadi. Setelah itu saya tertidur tanpa ingat apa-apa lagi. Sesaat saya terbangun meraba Bang Darius di sebelahku. Ternyata dia sudah bangun lebih dahulu. Rupanya dia langsung pulang tanpa membangunkan aku yang demikian pulas tertidur.

Jangan tanya keadaan ranjangku. Setelah semuanya selesai baru kusadari betapa pertarungan kami itu benar-benar memporak porandakan ranjangku. Seprei tempat tidurku sudah terbongkar. Bantal dan gulingku terlempar ke lantai. Pakaian ku terlempar entah kemana.

Saya cepat bangun dan mandi. Kubersihkan kemaluanku dari lumuran sperma Bang Darius. Lalu kurapikan kembali kamarku. Saya ganti seprei dan sarung bantalnya. Saya pastikan tidak ada lagi jejak-jejak yang bakal mengundang kecurigaan suamiku. Untuk menutupi cupang-cupang di dadaku saya cukup pakai baju yang rapat. Yang membuat aku agak panik merupakan cupang di leher. Akhirnya saya putuskan untuk berpura-pura terserang batuk sehingga aku selalu menggunakan selendang penutup leher. Ternyata cupang-cupang tersebut baru hilang setelah empat hari.

 

Beberapa hari setelah peristiwa itu, aku tidak sedikit melamun. Saya membayangkan kembali nikmat tidak biasa yang kudapatkan dari Bang Darius. Rasa sesak vaginaku saat mencengkeram kemaluannya sungguh tidak bisa kulupakan. Rasa legit saat cairan birahiku mulai membasah untuk mengiringi pompaan kemaluan Bang Darius benar-benar tak pernah kuraih dari Mas Surya.

Sejak hari itu saya tidak pernah jumpa lagi dengan Bang Darius. Menurut kawannya dia sudah pulang ke kampung. Dia menggarap ladang warisan orang tuanya. Karena pada hari itu saya gak sempat membayar upahnya, aku tidak banyak menyesal

Terus tidak gelap saya akui, berbulan-bulan sesudahnya saya dilanda rasa sepi. Kepuasan seksual semakin sulit kudapatkan dari suamiku. Tentu saja aku tak mungkin terjun menjadi wanita haus seks yang bisa kuraih dengan tidak susah sebab kecantikan dan sensual yang kumiliki. Saya ingat pada kata-kata seorang kawan, bahwa kepuasan seksual tidak bakal habis-habisnya kecuali seseorang sudah memahami makna dari kepuasan tersebut.

Kini saya mencoba belajar memahami ucapan tersebut. Dan rupanya Mas Surya sangat peduli padaku. Dia memiliki kepekaan dan bisa membaca bahwa aku sedang bermasalah. Insentif berupa pilihan tamasya ke kota-kota dunia diberikan pada saat ia mendapatkan cuti dari kantornya yang selama 1 bulan perusahaannya juga. Sudi ke New York, Paris, Tokyo atau kota dan negeri lain. Sesudah mempelajari tempat-tempat tujuan dari beragam brosur yang kami dapatkan dari agen perjalanan akhirnya kami memilih tamasya safari ke Serengeti, taman nasional di Afrika. Tempat itu sungguh eksklusive.

Mungkin tak menarik bagi turis populer. Kami menikmati pemandangan alam yang sungguh fantastis saat mentari terbit maupun tenggelam. Kami langsung menyaksikan kehidupan binatang liar banteng, singa, jerapah, cheetah dan sebagainya di alamnya yang sejati. Selama lebih dari 20 hari kami tidur di pondok-pondok pedalaman Afrika itu. Sebab pondok tersebut dikelola oleh jaringan hotel internasional, kami makan makanan asli setempat yang tentu telah diolah dengan standar makanan yang baik, Kami tak menyaksikan TV dan tak berhubungan telepon dengan dunia luar untuk lebih mendapatkan dan menghayati suasana yang benar-benar alami selama kami tinggal.

Dan yang hebat, sebagai bulan madu kami yang kedua dirasakan saya dan Mas Surya. Sebelum menonton DVD di tempat Mbak Sari itu, saya bisa meraih balik kegembiraanku sebagaimana kegembiraan Kemampuannya sebagai lelaki sejati ditunjukkan oleh kini kusadari betapa Mas Surya sudah sepenuhnya. Sering saya berhasil meraih orgasme pada setiap hubungan seksual bersamanya. Saat balik aku kayaknya lahir balik ke dunia. Bisa memandang hari depan yang penuh cerah dan kegembiraan. Tidak jauh dari sekedar mengejar kepuasan dunia.

Baca juga cerita seks bergambar yang tidak kalah seru dengan judul ” Cerita Sex Ngentot Tante Mirna Guru Seks Cantik “. End by www.ceritakini.com ~ cerita Sex 2017, cerita ngentot istri binal, cerita tante mesum, cerita hot janda, cerita panas istri, cerita ngentot istri, cerita dewasa istri, cerita mesum istri, cerita istri hot, cerita ngewe istri orang, cerita tante bergambar , cerita tante indo, cerita seks seru ~